Sabtu, 05 September 2015

Tugas Bahasa Indonesia "Banun"

Meski kini sudah zaman gas elpiji, Banun masih mengasapi dapur dengan daun kelapa kering dan kayu bakar, hingga ia masih menyandang julukan si Banun Kikir. Kemudian, Rimah akan membelikan kompor gas dan bertanya kepada Banun.
Rimah  : Mak, bagaimana saya belikan kompor gas?
Banun  : Huk-huk..Tidak usah, Nak. Sebaiknya uangnya untuk keperluanmu saja.
Rimah  : Tidak apa-apa. Tapi, asap dari pembakaran itu membuat batuk-batuk, Mak. Bagaimana   
               kalau Emak sakit ?
Banun  : Tak usah lah, Nak. Jika nasi tak terasa sebagai nasi bila dimasak dengan elpiji.
Rimah  : Baiklah, Mak.
Banun menolak tawaran Rimah yang hendak membelikannya kompor gas. Rimah sudah hidup berkecukupan bersama suaminya yang bekerja sebagai guru di ibu kota kabupaten. Begitu pula dengan Nami dan dua anak Banun yang lain. Sejak menikah, mereka tinggal di rumah masing-masing. Setiap Jumat, Banun datang berkunjung, menjenguk cucu, secara bergiliran. Terakhir, Banun bekunjung ke rumah Rimah.
Rimah  : Mak, sudah datang ya? Duduk dulu ,Mak.
Banun  : Ya,terima kasih.
Rimah  : Bagaimana Mak kabar Nami?
Banun  : Baik. Nami dengan suaminya baru diangkat jadi PNS.
Rimah  : Wah, bagus itu. Tapi apa Emak sering diolok-olok julukan buruk itu ?
Banun  : Iya, sering.
Rimah  : Kalau Mak menerima pinangan Rustam, tentu julukan buruk itu tak pernah ada,
Banun  : Biarlah mereka mengolok-olok Mak.
Rimah  : Masa itu kenapa Mak mengatakan bahwa aku sudah punya calon suami, padahal belum,    bukan? Bukankah calon menantu Mak calon insinyur?
Banun  : Tak usah kau ungkit-ungkit lagi cerita lama. Mungkin Rustam bukan jodohmu!
Rimah : Tapi seandainya kami berjodoh, Mak tak akan dinamai Banun Kikir!

Sesaat Banun diam. Tanya-tanya nyinyir Rimah mengingatkan ia pada Palar yang begitu bangga punya anak bertitel insinyur pertanian, yang katanya dapat melipatgandakan hasil panen dengan mengajarkan teori-teori pertanian. Tapi, bagaimana mungkin Rustam akan memberi contoh cara bertani modern, sementara sawahnya sudah ludes terjual? Kalau memang benar Palar orang tani yang sesungguhnya, ia tidak akan gampang menjual lahan sawah, meski untuk mencetak insinyur pertanian yang dibanggakannya itu. Apalah guna insinyur pertanian bila tidak mengamalkan laku orang tani? Banun menolak pinangan itu bukan karena Palar sedang terbelit hutang, tidak pula karena ia sudah jadi tuan tanah, tapi karena perangai buruk Palar yang dianggapnya sebagai penghinaan pada jalan hidup orang tani.

By : Fairuz Abdussalam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar