Meski kini sudah zaman gas elpiji, Banun masih
mengasapi dapur dengan daun kelapa kering dan kayu bakar, hingga ia masih menyandang
julukan si Banun Kikir. Kemudian, Rimah
akan membelikan kompor gas dan bertanya kepada Banun.
Rimah : Mak, bagaimana
saya belikan kompor gas?
Banun :
Huk-huk..Tidak usah, Nak. Sebaiknya uangnya untuk keperluanmu saja.
Rimah : Tidak
apa-apa. Tapi, asap dari pembakaran itu membuat batuk-batuk, Mak. Bagaimana
kalau Emak sakit ?
Banun : Tak usah
lah, Nak. Jika nasi tak terasa sebagai nasi bila dimasak dengan elpiji.
Rimah : Baiklah,
Mak.
Banun menolak tawaran Rimah yang hendak membelikannya
kompor gas. Rimah sudah hidup berkecukupan bersama suaminya yang bekerja
sebagai guru di ibu kota kabupaten. Begitu pula
dengan Nami dan dua anak Banun yang lain. Sejak menikah, mereka tinggal di
rumah masing-masing. Setiap Jumat, Banun datang berkunjung, menjenguk cucu,
secara bergiliran. Terakhir, Banun
bekunjung ke rumah Rimah.
Rimah : Mak, sudah
datang ya? Duduk dulu ,Mak.
Banun : Ya,terima
kasih.
Rimah : Bagaimana
Mak kabar Nami?
Banun : Baik. Nami
dengan suaminya baru diangkat jadi PNS.
Rimah : Wah, bagus
itu. Tapi apa Emak sering diolok-olok julukan buruk itu ?
Banun : Iya,
sering.
Rimah : Kalau
Mak menerima pinangan Rustam, tentu julukan buruk itu tak pernah ada,
Banun : Biarlah
mereka mengolok-olok Mak.
Rimah : Masa itu kenapa
Mak mengatakan bahwa aku sudah punya calon suami, padahal belum, bukan? Bukankah calon menantu
Mak calon insinyur?
Banun : Tak
usah kau ungkit-ungkit lagi cerita lama. Mungkin Rustam bukan jodohmu!
Rimah : Tapi
seandainya kami berjodoh, Mak tak akan dinamai Banun Kikir!
Sesaat Banun diam. Tanya-tanya nyinyir Rimah
mengingatkan ia pada Palar yang begitu bangga punya anak bertitel insinyur
pertanian, yang katanya dapat melipatgandakan hasil panen dengan mengajarkan
teori-teori pertanian. Tapi, bagaimana mungkin Rustam akan memberi contoh cara
bertani modern, sementara sawahnya sudah ludes terjual? Kalau memang benar
Palar orang tani yang sesungguhnya, ia tidak akan gampang menjual lahan sawah,
meski untuk mencetak insinyur pertanian yang dibanggakannya itu. Apalah guna
insinyur pertanian bila tidak mengamalkan laku orang tani? Banun menolak
pinangan itu bukan karena Palar sedang terbelit hutang, tidak pula karena ia
sudah jadi tuan tanah, tapi karena perangai buruk Palar yang dianggapnya
sebagai penghinaan pada jalan hidup orang tani.
By : Fairuz Abdussalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar